Gennaro Gattuso: Kuncinya Ada Pada Perisic Dan Candreva

Granplaneta.com – Perempat final Coppa Italia akan mempertemukan tim rival sekota antara AC Milan melawan Inter Milan. Laga yang digelar pada Kamis (28/12/2017) dinihari WIB biasa dijuluki dengan Derby Milano.

Inter Milan yang mempunyai beberapa pemain dengan kecepatan diatas rata-rata patut diwaspadai, pernyataan ini dikatakan langsung oleh mantan Gelandang AC Milan, Gennaro Gattuso, dirinya sangat bersiaga dengan kecepatan pemain Inter Milan terutama pada pergerakan Ivan Perisic dan Antonio Candreva di sisi sayap.

Meskipun dirinya was-was dengan kecepatan Inter Milan, namun Gattuso yang kini telah menjadi Manager AC Milan mengaku tidak takut dan gentar dengan keunggulan Inter Milan. Gattuso mengeklaim dirinya mempunyai langkah tepat untuk mengatasi para pemain sayap Inter Milan.

“Kuncinya ada pada Perisic dan Candreva. Mereka sangat bahaya dan kami harus mematikan pergerakan keduanya lalu melakukan serangan balik cepat. Saya tidak ingin pemain melakukan zona marking, karena itu berbahaya bagi tim,” tutur Gattuso pada Milan TV.

Inter Milan memang selalu memulai setiap serangannya dari sisi winger-nya, sisi sayap yang dihuni oleh Perisic dan Candreva memang selalu bisa menjadi solusi untuk kebuntuan tim dan selalu dapat memberi umpan cantik kepada penyerang Inter Milan Mauro Icardi.

“Icardi tidak akan bisa melakukan apa pun jika pergerakan pemain sayap Inter dimatikan. Kerja sama antar lini mereka sangat bagus dan itu membuat kami harus melakukan sesuatu lebih. Saya sudah mempersiapkan cara jitu untuk memenangkan pertandingan,” ucapnya.

AC Milan yang kalah dilaga pekan lalu oleh Atalanta karena absennya Suso dan Alessio Romagnoli, sekarang untuk hadapi Inter Milan Gattuso merasa tenang karena Suso dan Alessio Romagnoli bisa diturunkan di Derby Milano.

Juan Mata: Saya Tidak Puas Berbagi Poin Dengan Leicester City

Granplaneta.com – Pekan ke-19 Premier League, mempertemukan Manchester United menghadapi Leicester City, pertandingan tersebut berakhir dengan imbang 2-2. Namun, ada yang merasa tidak puas dengan hasil tersebut. Gelandang Manchester United, Juan Mata, mengaku tidak puas dan menganggap hasil imbang kontra Leicester City sama saja dengan mendapat kekalahan.

Juan Mata mencetak dua gol kegawang Leicester City dalam laga tersebut, dan membuat The Red Devil unggul. Namun, harapan itu pupus karena Harry Maguire berhasil mencetak gol peneimbang di menit akhir pertandingan. Hasil ini sontak membuat Mata kesal dan merasa tidak puas hanya membawa satu poin ke Old Trafford.

“Entah mengapa kami selalu kesulitan setelah mereka mencetak gol. Rasanya sama seperti mengalami kekalahan. Seharusnya kami bisa memenangkan pertandingan ini dengan mudah. Kami sudah bermain baik, tapi harus puas dengan hasil ini,” kesalnya.

Bukan tanpa alasan Mata kesal mandapat hasil imbang, karena guna memperkecil jarak dengan The Citizens semua pertandingan yang dijalani The Red Devil harus berakhir dengan kemenangan. Mata juga menambahkan, dirinya akan coba intropeksi dan melakukan perbaikan agar kesalahan yang sama tidak terjadi dua kali.

Manchester United sendiri kini terpaut 13 poin dari sang pemuncak klasmen. Jarak poin ini juga menjadi yang terbanyak sejak era persaingan kedua tim ini di Premier League.

“Kami harus segera bangkit dari hasil ini. Apa yang kami alami di atas lapangan menjadi tanggung jawab bersama sebagai tim. Baik saat kalah, atau pun menang. Aku tidak ingin membahasnya lagi,” tegas Mata.

Psikolog Komentari Sikap Romelu Lukaku

Granplaneta.com – Penyerang Manchester United, Romelu Lukaku, tidak melakukan celebration saat dirinya berhasil mencetak gol. Menanggapi hal ini Psikolog Olahraga, Phil Johnson, angkat bicara. Menurutnya sikap Lukaku terkesan tidak menghargai rekan setimnya.

Romelu Lukaku yang dibeli oleh Manchester United pada bursa transfer musim panas lalu, performanya dinilai kurang apik dan terkesan kurang produktif. Sempat bermain bagus diawal musim, namun performa Lukaku terus menurun. Tercatat dalam 14 pertandingan hanya 2 gol yang Lukaku sumbangkan untuk The Red Devil.

Dinilai Johnson tinggah laku Lukaku ini, menggambarkan sikap dari Manajer Jose Mourinho yang kecewa dengan penampilan Lukaku.

“Perilaku Romelu Lukaku mencerminkan Jose Mourinho. Saya juga tahu manajemen tim Belgia. Lukaku adalah seorang pemain muda, seperti Anthony Martial, yang membutuhkan dukungan. Jika dia bermain untuk Pep Guardiola, dia akan memiliki hubungan yang sama sekali berbeda dengan yang dia dapatkan dari Mourinho,” ucap Johnson seperti dilansir Soccerway.

“Lukaku membutuhkan bola untuk mencetak gol. Lihatlah Radamel Falcao saat ia pergi ke United dan dia hanya mencetak beberapa gol, kemudian kembali ke Monaco dan dia adalah pencetak gol terbanyak. Di Everton mereka bermain untuk Lukaku, tapi mereka tidak melakukan itu di United, meski startnya cukup bagus.”

“Saya pikir Lukaku tidak merayakannya sama saja dengan tidak menghormati rekan setim dan dirinya sendiri dan ini mencerminkan pendekatan manajernya,” Johnson melanjutkan.

Gaya Bermain Napoli, Susah Diimbangi

Granplaneta.com – Pekan ke-17 Liga Italia, mempertemukan tim kuat Napoli melawan Torino. Laga yang terjadi pada Minggu (17/12/2017) di kandang Torino, harus jadi laga yang memilukan bagi tuan rumah, pasalnya Torino harus mengakui kekuatan Napoli.

Sinisa Mihajlovic, pelatih Torino, mengakui kehebatan permainan Napoli dan menerima kekalahan 3-1 tersebut. Gol Napoli diciptakan oleh Kalidou Koulibaly pada menit keempat, Piotr Zielinski (25), dan Marek Hamsik (30).

“Sayangnya, saat Napoli bermain seperti itu, mereka sulit dibendung. Mereka lebih kuat dari kami. Mereka mencetak gol dalam waktu empat menit dan unggul 3-0 di babak pertama,” ucap Mihajlovic dikutip dari Football Italia, Minggu (17/12/2017).

Meskipun, tidak diunggulkan anak-anak Torino pun tetap bermain dengan apik dan berhasil menciptakan gol. Satu gol yang diciptakan Andrea Belotti di menit ke-63. Hal itu tentu karena inisiatif sang pelatih mengganti pola dan taktik permainan.

“Yang saya lihat adalah keinginan untuk bertarung meski kalah 3-0. Kami mengubah taktik dan mencetak gol. Kami memiliki kesempatan besar dengan peluang dari Iago Falque untuk membuatnya menjadi 3-2,” ucapnya.

Karena kekalahan tersebut, Torino terkunci di urutan kedelapan klasmen sementara Liga Italia dengan koleksi 23 poin. Dan menambah catatan buruk saat melawan Napoli di kandang sendiri.